22 Maret 2008

Programmable Logic Controller ( 1 )

Apa itu PLC?



PLC (Programmable Logic Controller) adalah suatu alat yang dibuat untuk keperluan rangkaian kontrol dalam pengendalian mesin. PLC bekerja atas dasar masukan dan tergantung statusnya, dengan tujuan bisa membuat on / off keluarannya. Pengguna memasukan suatu program melalui perangkat lunak (software) untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. PLC digunakan di dalam banyak aplikasi.

Pada industri-industri modern banyak digunakan PLC, untuk proses pengerjaan dengan mesin, pengemasan, penanganan material, perakitan otomatis dan lain-lain. Dengan alat ini kita dapat menghemat waktu dan biaya operasional dalam produksi. Hampir semua aplikasi yang memerlukan beberapa rangkaian kontrol (listrik) memerlukan PLC.

Sebagai contoh, misal suatu solenoid bekerja 5 detik on dan kemudian 5 detik off lalu 5 detik on lagi dan seterusnya. Mungkin kita dapat melakukan ini dengan alat pengatur waktu eksternal sederhana. Tetapi bagaimana jika proses mencakup 10 solenoid dan tombol? Kita akan memerlukan 10 pengatur waktu eksternal. Akibatnya kita memerlukan banyak alat eksternal, dengan demikian akan banyak biaya yang dikeluarkan. Kita dapat sederhanakan hal tersebut dengan PLC yang mampu mengerjakannya secara otomatis.

Menggunakan PLC kita bisa memecahkan / mengatasi dari hal-hal yang sederhana sampai relatif rumit, dengan memanfaatkan instruksi-instruksi yang tersedia. Tentu saja kita harus lebih banyak mendalami kemampuan-kemampuan apa saja yang dimiliki oleh PLC dan tentunya aplikasi-aplikasi apa yang akan kita buat.


Bagian-bagian Utama PLC

PLC terdiri dari CPU, area memori, dan sirkit yang berfungsi untuk menerima input / output data. Kita bisa memanfaatkan PLC dalam suatu panel dengan jumlah ratusan atau ribuan relay, counter, timer dan penyimpanan. Operasi counter, timer, dan lain lain benar-benar terjadi? Walaupun secara fisik tidak tampak, tetapi apa yang dilakukan (dengan perangkat lunak) bisa berfungsi seperti counter, timer, dan lain-lain.



INPUT RELAYS (contacts) Ini dihubungkan dengan bagian luar. Misalnya tombol, sensor, dan lain lain. Secara fisik mereka bukan relay tetapi adalah transistor.
INTERNAL UTILITY RELAYS (contacts) Ini tidak langsung menerima sinyal dari luar atau pun secara fisik tampak. Mereka berfungsi sebagai relay dan ini merupakan peran PLC untuk menghilangkan relay eksternal. Ada beberapa relay khusus yang difungsikan melakukan hanya satu tugas. Beberapa selalu on beberapa selalu off. Beberapa hanya berfungsi sekali selama power-on dan secara khusus digunakan untuk inisialisasi data yang disimpan.
COUNTERS Ini lagi secara fisik tidak ada. Mereka menirukan counter dan mereka dapat diprogramkan untuk menghitung denyut pulsa. Jenis counter ini dapat menhitung naik, turun atau kedua-duanya naik-turun. Mereka ditentukan dengan batasan hitungan (nilai). Beberapa pabrikan membuat counter kecepatan tinggi. Kita dapat beranggapan counter ini secara fisik ada. Kebanyakan counter ini dapat menghitung naik, turun atau naik-turun.
TIMERS Ini juga secara fisik tidak ada. Mereka dibuat dengan variasi dan penambahan. Yang paling umum adalah jenis on-delay. Yang lain meliputi off-delay dan kedua jenis ini terdiri: tidak bersifat menyimpan dan bersifat menyimpan. Interval kenaikan bermacam-macam dari 1 milidetik sampai 1 detik.
OUTPUT RELAYS-(coils) Ini dihubungkan dengan bagian luar. Mereka secara phisik ada dan mengirimkan sinyal on / off ke solenoid, nyala, dan lain-lain. Mereka dapat berupa transistor, relay atau triacs, tergantung yang diinginkan.
DATA STORAGE Berupa register yang berfungsi menyimpan data. Pada umumnya digunakan sebagai penyimpanan temporary untuk math atau manipulasi data. Dapat juga secara khusus digunakan untuk menyimpan data ketika power suplai PLC dimatikan. Ketika power-on masih ada muatan yang sama dengan dulu ketika dimatikan power suplainya.

Sistem Operasi PLC

Sebuah PLC bekerja dengan secara terus-menerus men-scan suatu program. Kita dapat menganggap bahwa siklus scan terdiri dari 3 langkah-langkah utama. Sebenarnya ada lebih dari 3, tetapi kita dapat memfokuskan pada bagian-bagian yang penting saja dan tidak menghiraukan yang lainnya, yaitu mengecek sistem dan membaharui internal counter dan nilai-nilai timer.



Langkah 1-CHECK INPUT STATUS Pertama adalah PLC memperhatikan masing-masing masukan untuk menentukan jika ada kondisi on atau off. Dengan kata lain, adalah sensor untuk pertama kali input on. Bagaimana tentang masukan yang kedua ? Bagaimana tentang yang ketiga... Itu merupakan rekaman data di dalam memorinya untuk digunakan selama proses langkah berikutnya.

Langkah 2-EXECUTE PROGRAM Berikutnya PLC mengeksekusi program anda satu instruksi dalam suatu waktu. Barangkali program anda berkata bahwa jika masukan yang pertama adalah on, kemudian keluaran yang pertama aktif. Sejak itu telah diketahui yang mana masukan adalah on / off dari langkah sebelumnya akan jadi mampu memutuskan apakah keluaran yang pertama harus dipasang didasarkan pada status dari masukan pertama. Itu akan menyimpan hasil eksekusi untuk penggunaan sepanjang langkah berikutnya.

Langkah 3-UPDATE OUTPUT STATUS Langkah terakhir PLC membaharui status keluaran. Dia membaharui keluaran jadi on jika masukan sepanjang langkah yang pertama on dan juga hasil pelaksanaan program anda sepanjang langkah yang kedua. Berdasarkan kondisi on pada contoh langkah 2, dia sekarang meng-on-kan keluaran yang pertama, sebab masukan yang pertama adalah on dan program anda mengatakan keluaran yang pertama on manakala kondisi ini benar.

Setelah langkah yang ketiga PLC kembali ke langkah satu dan mengulangi langkah-langkah itu secara terus-menerus. Waktu scan digambarkan sebagai waktu memproses 3 langkah-langkah di atas.